SULUK
Sering kita dengar syair-syair pujian yang didendangkan di mushola, langgar atau masjid bisanya didendangkan bersama-sama pada waktu subuh, dzuhur, ashar, magrib dan isya' untuk menunggu jamaah. Syair pujian tersebut tentu saja berbuansa keagamaan. Ada yang dinyanyikan dengan bahasa arab ada pula dinyanyikan dengan bahasa daerah.
Orang mengenal puji-pujian ini disebarkan oleh walisongo yaitu wali-wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Walisongo menyebarkan agama Islam dengan cara persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat budaya masyarakat waktu itu sehingga banyak masyarakat yang tertarik dengan hal itu. Lalu apakah suluk tersebut?
Suluk merupakan salah satu karya sastra yang diciptakan oleh Sunan Bonang. Suluk berasal dari kata arab "salakattariiqa" yang artinya menempuh jalan (tasawuf) tariqot. Toriqot sendiri artinya jalan yaitu sebuah jalan menuju sebuah kebenaran yg haq. Sebagian masyarakat (yang mengenal toriqot) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tariqot dan Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Ilmu suluk ini biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang. Sedangkan bila disampaikan secara biasa dalam bentuk prosa disebut wirid. Salah satu suluk wragul dari sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sunan Giri juga menciptakan tembang suluk Asmaradana dan Pucung. Beiau juga menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang didalamnya diberi unsur keislaman, misalnya jamuran, cublak-cublak suweng, jithungan dan delikan.
Puji-pujian atau suluk berisi tentang sholawat, doa-doa mustajabah dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian ini kental dengan nuansa ajaran tasawuf.
Salah satu contoh suluk dalam tembang "Tombo Ati"
Tombo ati iku limo sak wernane (obat hati itu ada lima macamnya)
Kaping pisan moco Qur'an sak maknane (yang pertama membaca Quran dan maknanya)
Kaping pindho sholat wengi lakonono (yang kedua sholat malam dirikanlah)
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono (yang ketiga berkumpullah dengan orang2 sholeh)
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe (yang keempat menahan lapar (puasa))
Kaping limo dzikir suwi ingkang suwe (yang kelima dzikir yang lama)
Tembang pengingat kematian. Tembang yang mengingatkan setiap yang hidup pasti akan mati.
Ilingono para timbalan (Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan (Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya (Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga (Mau-tak mau harus pergi)
Lalu dilanjutkan dengan bait syair yang menggambarkan orang-orang di dalam kubur.
Klambine diganti putih (Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa molih (Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo (Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa (Beroda empat berupa manusia) Oma e rupa goa (Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso (Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange (Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange (Tidur sendirian tak ada yang menemani)
Inti dari syair pengingat kematian tersebut adalah "secerdik-cerdiknya manusia ialah yang terbanyak ingatannya pada kematian serta terbanyak persiapannya menghadapi kematian itu sendiri. Mereka ituah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akherat" (HR Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunya)